Calon Pak Haji Itu…

If you're new here, may be you'd like to subscribe to my RSS feed. Thank you for visiting !

Menjelang musim haji tahun 2007 (atau 1428 Hijriah) ini, kesibukan mulai tampak disana-sini. Walaupun suasana sedang Ramadhan, namun pembicaraan tentang haji ini sudah mulai diperbincangkan, walaupun hanya seputar siapa yang berangkat ke tanah Mekkah, kapan berangkatnya, kloter berapa, bagaimana cerita, motivasi atau hambatan  dalam memenuhi panggilan Allah ini, dan seterusnya.

Terkadang, diantara perbincangan yang renyah dan bersahabat tersebut, sesekali terdengar decak kekaguman atas jerih payah usaha para Calon Haji tersebut. Tak jarang pula timbul rasa ingin yang menggebu untuk segera turut menggenapkan kewajiban sebagai seorang muslim, walau terkadang ada beberapa  rambatan gelombang iri atas kesuksesan (dan keberuntungan) yang diperoleh oleh para Calon Haji tersebut, sehingga mereka akhirnya mampu berangkat ke tanah suci tahun ini dengan biaya naik haji (dulu ongkos naik haji) sekitar 22 juta per orang untuk paket regular.

Diantara para Calon Haji ini, ada beberapa orang yang saya kenal dengan lumayan baik, yang alhamdulillah, tinggal menunggu kepastian pemberangkatan, insya Allah. Diantara beberapa orang tersebut adalah Bapak Maryono, yang ingin saya ceritakan kepada rekan semua. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini. Sebelumnya maaf, karena saya tidak terlalu pintar bercerita dan menuliskan disini, terlebih saya tidak terlalu pintar bertanya sehingga keterangan menjadi sepotong-potong.

Bapak Maryono, begitu orang menyebutnya. Orangnya santun dan ramah, bahkan kepada orang yang lebih muda pun beliau senantiasa menggunakan bahasa jawa alus, termasuk kepada saya. Alhamdulillah saya dapat bertemu dan berkenalan, serta berkunjung ke rumah beliau beberapa kali. Pertama bertemu saya tidak ingat, insya Allah di suatu lingkaran pengajian di kota Kudus di tahun 1997an. Saat itu, sehari-harinya beliau berdagang di Pasar Kliwon Kudus, pasar grosir paling besar di Kudus dan di eks Karesidenan Pati.

Sebagai pedagang, saya bertemu dengan beliau hanya beberapa kali saja, dan seingat saya, saat itu beliau berjualan hanya di lantai pasar (tidak di los apalagi kios). Namun menurut cerita yang saya dengar, terakhir beliau mempunyai dua buah los untuk berdagang, satu untuk dirinya dan satu untuk istrinya. Sekali lagi los bukanlah kios. Los hanyalah bangunan semi permanen di dalam pasar.

Entah apa sebabnya, kemudian saya beberapa kali bertemu dengan beliau diatas bus jurusan Pati ke arah Kudus (perjalanan pulang). Setelah ditanya, ternyata sekarang dagangannya tidak berdiam di los, tetapi berkeliling. Waktu itu dagangannya berupa jasa servis perbaikan payung. Ya, payung untuk persiapan saat hujan. Saya membayangkan berapa penghasilan dari servis payung rusak, dikurangi dengan biaya naik bus pulang pergi Kudus - Pati yang kira-kira memakan waktu 1 jam sekali jalan.

Yang membuat saya kagum adalah semangat untuk menjemput rezeki Allah. Hingga baru-baru ini saya mendengar bahwa beliau -alhamdulillah- akan berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah tahun 2007 ini, dan diperkirakan akan berangkat pada bulan Nopember 2007. Apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana seorang pedagang di los pasar, dan berkeliling menawarkan jasa servis payung bisa berangkat haji tahun ini ?

Tentunya, semua itu adalah atas izin Allah Swt. Silahkan simak cerita saya berikut ini.

Ternyata, berkeliling di kota Pati telah beberapa lama dihentikan, dan kembali berjualan, walaupun tidak di los pasar, karena los yang ia pakai sedang disewakan kepada pedagang lainnya, hingga terbetik keinginan dari si penyewa tersebut untuk membelinya. Setelah dipikir masak-masak dengan istrinya -yang setiap hari berdagang sabuk dan topi di los yang lain di Pasar Kliwon yang sama- akhirnya diputuskan untuk menjual los tersebut. Harga pun telah disepakati. Tidak mahal harga sebuah los semi permaenen di Pasar Kliwon, hanya 25Juta rupiah saja. Padahal harga kios di lantai bawah harganya sudah beratus-ratus juta rupiah, karena memang Pasar Kliwon ini pasar yang sangat ramai. Jangankan di hari-hari menjelang lebaran seperti ini, di setiap akhir pekan saja -hari sabtu dan minggu- pelataran parkirnya selalu penuh oleh kendaraan pengunjung.

Hasil penjualan los inilah yang kemudian dengan serta merta digunakan sebagai pembayaran biaya naik haji. Alhamdulillah uangnya banyak, dan cukup, begitu kira-kira penjelasan beliau ketika saya tanya. Saya menjadi sangat terharu dan sangat iri kepada beliau dengan serta merta. Terharu, karena uang yang hanya 25an juta itu menjadi suatu harta yang sangat banyak bagi beliu sekeluarga, dan tanpa pikir panjang digunakan untuk menunaikan ibadah haji. Saya iri, melihat keseriusannya dalam menunaikan kewajiban kepada Allah. saya teringat dengan gurauan bernada serius dari seorang teman dekat yang mengajak berlomba-lomba untuk segera menunaikan ibadah haji, paling lambat dalam waktu 5 tahun dari saat di jogja, begitu katanya masih terasa segar di telinga saya.

Allahu Rabb. Ini sungguh meruntuhkan kesombongan saya selama ini, bahwa berangkat haji adakah perkara mudah, asal ada uang insya Allah semua bisa jalan. Namun, ini sama sekali lain dengan kenyataan bagaimana seorang Bapak Maryono bisa berangkat haji dengan uang yang hanya 25juta, tanpa persediaan tabungan atau apapun di rumah.

Tahukah anda bahwa Bapak Maryono ini mempunyai 6 orang putra putri, yang semuanya sedang menempuh pendidikan mulai TK hingga perguruan tinggi ? Tahukah anda bahwa usaha beliau hanyalah berdagang di los dengan dagangan berupa sabuk dan topi ? Tahukah anda bahwa kolam ternak lelenya di belakang rumahnya sudah lama kosong ? dan tahukah anda bahwa sebagian dari tanah rumahnya diwakafkan untuk masjid kampungnya ? Kira-kira apa yang membuat beliau mampu melakukan semua itu ? Saya yakin jawabannya hanya satu: Allahu !

Keyakinan atas kemahabesaran Allahu telah membuat beliau mantap mewakafkan tanah untuk masjid di kampungnya, keyakinan kepada Allah jua yang membuatnya tidak takut miskin dan kekurangan dengan berangkat haji tahun ini -walaupun tidak disertai dengan istrinya. Keyakinan itu sungguh dalam tertanam di tubuh orang yang sederhana ini. Dan Allahu tidak menyia-nyiakan keyakinan ini. Allahu tahu semua usaha yang telah dilakukan, dan Allahu yang akan menerima dan menjamu beliau sebagai tamu istimewa saat ibadah haji nanti. Allahu saja.

Sungguh beruntung saya mengenal beliau, pribadi yang sederhana namun kokoh. Sungguh beruntung saya menjadi hamba Allahu, dengan harapan bahwa akan ada usaha yang sungguh-sungguh untuk memenuhi panggilanNya. Betapa terdengar merdu saat ini, ungkapan thalwah ini:

LabbaikAllahummaLabbaika
LabbaikaLaaSyarikalakaLabbaika
InnalHamdaWaNikmataLaka
WalMulku Laa Syarikalaka


No Responses to “Calon Pak Haji Itu…”  

  1. No Comments

Leave a Reply



This blog uses the CommentLuv plugin which will try and parse your sites feed and display a link to your last post, please be patient while it tries to find it for you.