Gunther Map

If you're new here, may be you'd like to subscribe to my RSS feed. Thank you for visiting !

Sejak beberapa tahun yang lalu, penulis sering mendengar istilah ‘Gunther’ yang merujuk ke peta Jabotabek. Penasaran sih, kenapa peta yang menurut saya super komplit itu dipanggil ‘Gunther’, sesuatu yang tak lazim. Tapi saat itu, rasa penasaran itu berakhir karena penulis kemudian ditugaskan ke Kudus, suatu kota kecil di Jawa Tengah, pada awal tahun 1997.

Dikarenakan, Insya Allah, penulis akan segera bertugas kembali ke Jakarta, maka ingatan dan rasa penasaran dengan 'Peta Gunther' (Gunther Map) ini muncul lagi. Rasa penasaran muncul lagi, karena memang mau tidak mau, penulis akan memerlukan peta untuk menjelajah wilayah Jakarta lagi. Pucuk dicinta ulam tiba. Ketika tengah searching peta Jakarta, eh ketemu deh dengan artikel tentang Mr Gunther ini.

Baru tahu, ternyata ‘Gunther’ itu adalah nama orang Jerman yang membuat peta Jabotabek pertama kali. Salut deh !

Nah, posting ini adalah cuplikan dari sumber yang disebutkan di bawah, sebagai penghormatan kepada Mr. Gunther yang telah berhasil membuat peta Jabotabek saat ini dapat dinikmati secara luas. Bahkan, kalau tidak salah, selain edisi hardcopy (buku peta), sekarang juga sudah ada edisi softcopy alias peta digitalnya.

Ada apa sih Peta Gunther ini ? Well, saya harus katakan, bahwa peta ini sangat komplit, detil, dan cermat. Peta ini sangat penting bagi siapa saja (penduduk Jakarta atau bukan), yang ingin menjelajah (eksplorasi) Jakarta tanpa takut tersesat. Sangat detil dan rinci, dengan skala peta yang besar, bentuk seperti buku dengan halaman-halaman yang bisa dibolak-balik, serta index halaman yang rinci. Luar biasa ! Peta ini sungguh berbeda dari peta-peta lainnya -minimal peta-peta di Indonesia– yang pada umumnya dibuat dengan skala yang relatif kecil dan biasanya hanya berupa lembaran peta yang sangat besar sehingga tidak nyaman dipakai untuk menjelajah.

Penulis ketika itu (1996) menggunakan peta ini untuk membantu tugas penulis melakukan survei lapangan dengan cara mendatangi lokasi-lokasi wajib pajak yang akan dilakukan penilaian / pendataan PBBnya. Walaupun pihak fiskus (DJP) dengan Direktorat PBB dan BPHTBnya (sekarang menjadi Direktorat Ekstensifikasi dan Penilaian) telah memetakan setiap petak kota Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia, namun peta ‘Peta Gunther’ ini tetap digunakan sebagai rujukan utama bagi para petugas yang terjun ke lapangan secara langsung. (Jadi ingat saat survey lapangan untuk penilaian individual tahun 2006).

Bagi kalangan geomatikawan dan map-maker pasti tahu bahwa membuat peta seperti ‘Peta Gunther’ ini sangat sulit dan memakan sumber daya yang luar biasa besarnya. 'Peta Gunther' ini adalah salah satu incaran pertama yang penulis cari (must have) saat di Jakarta nanti.

Nah, inilah artikelnya:

=Start=

Gunther, Rumitnya Peta Jabotabek

GUNTHER W. Holtorf (59), pria berkebangsaan Jerman ini, mungkin satu-satunya orang yang paling hapal lokasi dan nama jalan di Jabotabek. Betapa tidak. Ia menyusuri satu persatu ribuan jalan, dari gang sempit hingga jalan tol di wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, dan Karawang.

Hasilnya fantastis. Peta terbaru Jabotabek setebal 356 halaman yang beredar sejak pekan lalu itu, menjadi salah satu buku yang dicari dan paling laris hari-hari ini.

"Mungkin orang tidak pernah membayangkan bagaimana peta ini dibuat. Sangat complicated, penuh tantangan, dan sulit. Tapi saya melakukannya sendiri," kata Gunther W. Holtorf.

Dua halaman peta misalnya, ia kerjakan lebih daripada satu minggu. Peta terbarunya itu membutuhkan waktu sekitar dua tahun! Peta ini memuat 85 halaman peta baru, terutama wilayah Botabek yang belum pernah dimuat dalam peta edisi sebelumnya yang terbit Oktober 1993. Hampir semua peta Botabek yang dibuatnya merupakan peta mutakhir yang pernah ada sejak Indonesia merdeka. Peta Kabupaten Tangerang misalnya, yang pernah ada buatan tahun 1904.

Untuk membuat tambahan 85 halaman peta dengan 20.000 nama baru, ia memulainya dari Depok, Cimanggis, dan Bogor. Modal awal adalah foto udara Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), yang diperbesar. Ia kemudian ke lapangan, mencek satu per satu nama jalan, lokasi fasilitas umum seperti SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum), mesjid, dan lain-lain. Ia mencek nomor kode pos setiap kecamatan dan kelurahan/desa, kemudian ia konfirmasikan ke Kantor Pos Besar di Bandung.

Survai lapangan ini dimulainya pukul enam pagi dan selesai pukul tujuh malam. Ungkapnya, "Tidak ada hari libur bagi saya".

Gunther tidak segan bertanya kepada warga setempat, untuk memastikan informasi yang dicarinya. Banyak pengalaman tak enak menimpanya, seperti misalnya ban mobil Kijangnya dikempesi dan ia diperas oleh berandalan, atau pernah ia ditodong penjahat. Meski demikian, ia mengaku mendapat banyak bantuan dari masyarakat Jabotabek yang dijumpainya. Katanya, "Mereka sangat helpful".

Kerja sama diperolehnya dari banyak pihak. Ketika ia datang ke kantor kepala desa, kantor lurah, kantor DPU, mereka memberinya informasi. Bahkan keterangan rencana pembangunan jalan tol Kalimalang (yang tercantum dalam edisi terbaru), justru merupakan permintaan pihak Bina Marga dan Jasa Marga.

Genap setahun ia melakukan survai lapangan, dengan menyetir sendiri mobil Kijang. Jelasnya, "Kalau pakai sopir, malah lambat".

Mengamati pesatnya pembangunan kompleks permukiman komersial (real estate), Gunther merasa surprise. Di Jabotabek saat ini ada sekitar 1.130 perumahan komersial real estate dan sekitar 600 kompleks perumahan instansi/departemen. Satu per satu kompleks perumahan itu didatanginya, sehingga ia pun tahu persis kondisi jalan ke lokasi, apakah jelek atau baik. Dalam peta terbarunya misalnya, Gunther mencantumkan kondisi jalan dari Parung menuju perumahan Citra Raya di Cikupa, yang disebutnya bad condition.

Setelah selesai dengan survai lapangan, ia membuat peta dengan skala yang benar. Ia merampungkannya di Budapest, Hongaria, untuk pekerjaan art work. Di sana, ia dibantu 10 orang pembuat kartografi. Setelah semuanya selesai, peta ini dicetak di PT Intermasa Jakarta dan didistribusikan oleh PT Djambatan Jakarta.

"Hasilnya tak terduga. Banyak toko buku kehabisan stok dan memesan kembali," kata Syarifuddin, Direktur PT Djambatan. Edisi ke-11 ini dicetak 80.000 eksemplar, harganya Rp 58.000 per eksemplar.

* * *

PEMBUATAN peta DKI Jakarta ini dirintis Gunther W. Holtorf sejak 20 tahun silam. Tapi peta DKI yang diterbitkan tahun 1977 (dengan kata pengantar Gubernur DKI Ali Sadikin) itu baru satu lembar dan wilayahnya sangat terbatas. Bandara Kemayoran masih jelas tercantum dalam peta tersebut. Penerbitnya, Falk, sebuah penerbit peta terbesar di Eropa yang bermarkas di Hamburg.

"Waktu itu saya naik sepeda dan becak. Jakarta 'kan masih belum padat seperti sekarang," kisahnya.

Sekarang, jarak Balaraja (Tangerang) ke Karawang sekitar 120 km, dan jarak Ancol (Jakarta Utara) ke Ciawi (Bogor) sekitar 70 km. Tambahnya, "Wilayah yang harus dicek sangat luas. Jadi sekarang saya menggunakan mobil".

Ke Jakarta pertama kali pada tahun 1973 sebagai manajer Lufthansa, Gunther tinggal di Hotel Asoka berlantai dua (sekarang sudah lenyap dan lokasinya menjadi Plaza Indonesia).

* * *

MENURUT Gunther, semula ia hanya iseng-iseng membuat peta.

"Banyak teman saya menanyakan lokasi daerah di Jakarta. Demikian pula pelanggan Lufthansa. Itu mendorong saya untuk membuat peta Jakarta yang lebih baik, dan hasilnya berupa peta DKI Jakarta yang terbit tahun 1977, untuk menyambut HUT ke-450 DKI Jakarta," tuturnya. Peta  ini dicetak sampai enam kali dengan berbagai perbaikan di sana-sini, tapi tetap satu lembar.

Tahun 1990, peta Jakarta edisi ke-7 terbit, wilayahnya lebih luas dan nama-nama jalan lebih detil. Tahun 1992, peta Jakarta edisi ke-9 setebal 176 halaman beredar dengan harga Rp 26.500. Dalam peta ini, banyak daerah baru yang muncul seperti Meruya, Bintaro, Pondokgede, Pondokkelapa, dan Cakung. Tahun 1993, terbit peta 243 halaman dengan daerah Serpong, Lippo Village, dan Bintaro.

"Saya tidak pernah membayangkan. Hanya dalam waktu 20 tahun, peta yang saya buat menjadi peta lengkap. Waktu peta tahun 1990 terbit, saya berpikir inilah peta Jakarta yang terbaik. Saya tak pernah berpikir, tahun-tahun berikutnya saya akan mengerjakan peta lebih mutakhir," ungkap Gunther yang menguasai Bahasa Jerman, Spanyol, Inggris, Portugis.

Meski peta edisi ke-11 ini sudah beredar, bukan berarti Gunther selesai bekerja. Mulai September ia menyiapkan pembuatan peta edisi berikutnya. Sebelumnya, ia akan berlibur empat bulan di Jerman, berama istrinya Christie (42) dan putrinya Sabine yang tinggal di Frankfurt. Lelaki yang pernah tinggal di Argentina, Cile, dan Uruguay, sebagai manajer Lufthansa ini menambahkan, "Saya memang butuh istirahat agar bisa segar lagi jika bekerja di Jakarta".

Peta edisi ke-12 tahun 1998 direncanakan terbit dengan jumlah halaman yang sama, namun dengan sejumlah perbaikan seperti tambahan nama apartemen dan gedung perkantoran. Pada edisi ke-13 yang akan terbit tahun 1999, ada 80 halaman baru, 50 halaman peta baru, dan 30 halaman indeks. Peta itu akan memuat daerah Cikampek, Cipanas, Bogor Raya, dan Jonggol yang diperkirakan bakal tumbuh pesat.

Gunther setuju mencantumkan nomor kode area telepon, lokasi wartel, dan kantor polisi. Tapi sulit melakukannya untuk rute bus dan jalan satu arah. Jelasnya, "Rute bus di Jakarta tidak seperti di London, Frankfurt, atau Tokyo. Sering berubah-ubah. Selain itu, Jakarta sangat terkenal dengan jalan satu arah, kecuali. Misalnya jalan ini satu arah kecuali truk, bus, atau kecuali hari libur, atau kecuali pukul 06.00-10.00, dan sebagainya.

Gunther mengakui ada beberapa kesalahan kecil dalam peta buatannya. Katanya, "Ya, saya menerima sejumlah kritik atas beberapa kesalahan yang ada. Memang tidak bisa sempurna seratus persen, tapi saya selalu berusaha memperbaikinya".

Sekolah Al Izhar misalnya, ditulis Al Azhar, di halaman 74. "Itu produk peta edisi sebelumnya, yang dicetak ulang pada edisi baru. Kesalahan itu saya perbaiki pada halaman 84, halaman peta baru," katanya.

Ia mengaku sangat gembira jika menerima masukan dan kritikan. Katanya, sedikitnya ada 200 surat dan puluhan telepon yang masuk ke PT Djambatan, yang menyampaikan masukan untuk perbaikan petanya.

Tentang peta Jakarta yang dicetak oleh penerbit ilegal, Gunther mengatakan kejadian itu tidak menguntungkan. "Tapi mungkin bagi orang lain, itu cara mendapatkan peta dengan harga lebih murah," kata Gunther yang menambahkan, kemungkinan besar peta yang dicetak ilegal berbentuk citymap bukan peta tebal.

* * *

TAMPAKNYA pembuatan peta Jabotabek membuat Gunther semakin berarti.

"Uang bukan tujuan utama. Bagi saya, yang terpenting hasil karya saya bisa bermanfaat bagi masyarakat Jabotabek, bagi orang Indonesia," ujarnya sungguh-sungguh.

Ketika ditanya apakah ia mempunyai kader atau staf untuk melanjutkan pekerjaan ini, Gunther mengatakan ia sudah lama mencari orang yang berminat sungguh-sungguh dalam pembuatan peta.

"Mereka haruslah orang yang teliti dan akurat, serta berpikir milimeter. Artinya, mereka harus mau teliti mengukur ketepatan skala agar tidak salah," kata Gunther yang masih enerjik meski usia menjelang kepala enam. (Adhi Ksp).

Sumber: http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/04/09/0171.html

=end= 

Hebat juga nih mister. Sampai-sampai ada yang manggil dia si 'gila'. Tidak percaya ? Lihat aja disini


5 Responses to “Gunther Map”  

  1. Gravatar Icon 1 djoko winarto

    How can I get/buy a last edition of Gunther map DKI?

  2. Gravatar Icon 2 reychan

    is any digital copy for the latest edition?

  3. Gravatar Icon 3 mervandi

    I see this map at Gramedia Bookstore complete with the digital version on CD. Check it there.
    (I hope i’m not mistaken).

    mervandi’s last blog post..WordPress Themes for TheGeom dot com

  4. Gravatar Icon 4 tri

    bagaimana atau dimana bisa membeli map peta dari gunther edisi terbaru (2007-2008?). mohon informasinya. sangat pengin beli versi yang paling baru.

  5. Gravatar Icon 5 mervandi

    saya belum tahu edisi terbarunya. yang saya tahu, gunther map edisi 2001/2002 diterbitkan oleh PT Djambatan.
    Silahkan baca http://www.mail-archive.com/ha.....00018.html

    mervandi’s last blog post..Blog Theme’s Refreshed

Leave a Reply



This blog uses the CommentLuv plugin which will try and parse your sites feed and display a link to your last post, please be patient while it tries to find it for you.